Tampilkan postingan dengan label Let's Go Green. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Let's Go Green. Tampilkan semua postingan

Jumat, Januari 23, 2009

POLUSI KARBON DARI LAYANAN GOOGLE

Jangan menyangka aktivitas pengguna Internet tidak menyebabkan global warming (pemanasan global). Setiap kali Anda memanfaatkan layanan di Google, tanda sadar Anda telah menyumbang polusi.

Hasil penelitian fisikawan dari Universitas Harvard Alex Wissner-Gross menyimpulkan setiap kalai mesin pencarian Goole bekerja rata-rata menghasilkan 7 gram karbon dioksida. Artinya dua kali pencarian saja sudah menghasilkan 14 gram atau setara dengan karbon sioksida yang dihasilkan saat seseorang merebus seceret air dengan kompor listrik.
Emisi karbon ini dihitung dari konsumsi listrik yang dibutuhkan komputer pengguna hingga energi yang dihabiskan data center Google yang beroperasi di seluruh dunia. Penggunaan nergi yang besar berarti emisi nkarbon dioksida yang besar pula mengingat sebagain besar pembangkit listrik yang digunakan saat ini masih berbasis sumber energi fosil.

Namun, temuan tersebut dibantah Google. Dalam blog resminya Google menilai hasil perhitungan tersebut terlalu tinggi. Google tidak memungkiri bahwa layanan menyedot energi namun hanya setara dengan melepaskan 0,2 gram karbon untuk setiap kali pencarian.
Google mengklaim setiap kali pencarian rata-rata dibutuhkan 0,2 detik. Akses ke server untuk setiap kali pencarian hanya dalam skala seperseribu detik. Jiak Goole rata-rata membutuhkan energi 0,0003 kWh untuk setiap kali pencarian, maka jumlah karbon yang dikeluarkan setara dengan 0,2 gram setiap kali pengguna melakukan pencarian.
"Kami telah menurunkan begitu banyak penggunaan energi di data center kami, namun kami juga masih menginignkan sumber listrik yang bersih dan murah untuk memasok kebutuhan energi kami," ujar Google dalam pernyatannya. Pada tahun 2007, Google membentuk Climate Savers Computing Initiative sebagai konsorsium non profit yang berkomitmen menekan penggunaan energi di tingkat konsumen hingga setengahnya mulai tahun 2010 dan menurunkan emisi karbon dioksida 54 juta ton per tahun.
Meski demikian, Wissner-Gross menyatakan layanan seperti Google tetap akan menyedot energi sangat besar. Ia mengatakan untuk meningkatkan kemampuan mesin pencarian, penyedia layanan harus menghabiskan energi lebih besar. Penelitian terakhir yang dilakukan firma analis Gartner menunjukkan layanan IT saat ini menyumbang dua persen emisi karbon diosksida di seluruh dunia. kompas.com

Selengkapnya....

Rabu, Desember 10, 2008

ECO-DRIVING : Hemat BBM dan Ramah Lingkungan

Transportasi menyumbang 25% pemanasan global; tiga perempatnya berasal dari transportasi darat berbahan bakar fosil (minyak bumi). Pusat Kajian Subsidi Bidang Fiskal Departemen Keuangan mencatat, lima tahun terakhir sektor transportasi rata-rata menghabiskan lebih dari 45% total BBM nasional, jauh melebihi konsumsi sektor industri yang 20%.

Padahal, konsumsi BBM bisa dihemat lewat eco driving. Selain itu eco driving dapat menurunkan gas buang, pencemaran suara, kemacetan dan angka kecelakaan. Tentunya dengan dukungan pengelolaan lalu lintas dan infrastruktur serta teknologi kendaraan. Tak kalah penting perilaku pengguna jalan yang dapat menghemat BBM rata-rata 20-30%. Ada tiga perilaku berkendara yang perlu diperhatikan, yaitu perencanaan, cara berkendara dan perawatan kendaraan.
Perencanaan meliputi rute, waktu perjalanan dan jenis kendaraan. Hindari berkendara saat jam sibuk jika tak terpaksa sekali. Sekadar info, pada jam sibuk pagi dan sore, lalu intas jalan-jalan utama Jakarta hanya melaju 12km/jam. Penelitian di 34 titik jalan arteri oleh Departemen Perhubungan pada tahun 2000 menunjukkan ada 32 titik (94%) melebihi kapasitas. Bahkan tiada jalan arteri bebas macet. Jika diuangkan, kemacetan itu setara Rp 7,2 triliun/tahun! Kemacetan tak terelakkan sebab pertumbuhan kendaraan rata-rata 11% tiap tahun sementara jalan hanya menambah kurang dari 1%.
Agar lebih nyaman, berangkatlah sebelum dan selepas jam sibuk. Kalu rutinintas hanya rumah-kantor, gunakan saja kendaraan umum. Atau berbagi kendaraan pribadi (sambil patungan beli BBM) dengan teman-teman searah. Dalam memilih kendaraan, bila dana mencukupi, pilih kendaraan yang hemat energi. Bila anggaran belum mendukung, cara berkendara dan perawatan mendukung penghematan.
Kegiatan memanaskan mobil tidak butuh waktu lama. Cukup 30-45 detik. Boleh tambah sedikit kalau begitu keluar rumah jalan menanjak. Ingat, tiap pemanasan 45 menit, BBM tersedot 1 l. Namun jangan pula langsung menjalankan mobil dalam kondisi dingin sebab menyedot BBM 2-3 kali lebih banyak dibandingkan dengan yang sudah panas. Sekali start setara 1 menit pemanasan. Matikan mesin bila harus menunggu lebih dari 30 detik, sebab restrart mesin lebih hemat dibandingkan dengna mesin menyala 10 detik.
Selama berkendara, sesuaikan gigi dengan kecepatan kendaraan. Contoh, gigi 1 untuk kecepatan 0-15 km/jam, gigi 2 (15-35 km/jam), gigi 3 (35-50 km/jam), gigi 4 (50-70 km/jam), gigi 5 (kecepatan di atas 70 km/jam). Pindahkan transmisi ke posisi lebih tinggi secepat mungkin. Pada kendaraan berbahan bakar bensin atau gas lakukan sebelum 2.500 putaran permenit (rpm).Pada diesel sebelum 2.000 rpm. Pada transmisi tertinggi pertahankan kecepatan jelajah di 70-80 km/jam. Gigi transmisi tinggi menyedot BBM lebih sedikit untuk pembakaran dan menghemat 5-10%. Tukar gigi ke netral bila akan berhenti di lampu merah.
Lakukanlah pergerakan dengan lembut, stabil di 1.200-3.000 rpm. Jadi, ngegas atau ngerem mendadak harap dihindari. Begitu juga memotong, menyalip, atau berkendara agresif.
Kalau udara tak terlalu panas, matikan AC atau setel suhu di atas 21oC. Hindari muatan yang berlebihan sebab akan dibutuhkan tenaga alias BBM lebih besar. Setiap 5.000 km cek kendaraan untuk memastikan keadaan mesin baik. Periksa tekanan angin ban secara berkala. Kurang angin 25% dari normal akan meningkatkan 10% traksi roda, selain berbahaya juga boros bensin 2-3% dan menambah emisi gas sampai 5%.
By : Muhammad Suhud; Intisari nov 08.


Selengkapnya....

Senin, Desember 08, 2008

PROPOSAL TIES ECONOMIC STIMULUSTO ENERGY PLAN

WASHINGTON — President-elect Barack Obama and leaders in Congress are fashioning a plan to pour billions of dollars into a jobs program to jolt the economy and lay the groundwork for a more energy-efficient one.

Gov. Arnold Schwarzenegger of California said state infrastructure projects could provide new jobs within two years.


The details and cost of the so-called green-jobs program are still unclear, but a senior Obama aide, speaking on the condition of anonymity to discuss a work in progress, said it would probably include the weatherizing of hundreds of thousands of homes, the installation of “smart meters” to monitor and reduce home energy use, and billions of dollars in grants to state and local governments for mass transit and infrastructure projects.

The green component of the much larger stimulus plan would cost at least $15 billion a year, and perhaps considerably more, depending on how the projects were defined, aides working on the package said.

During the campaign, Mr. Obama supported a measure to address global warming by capping carbon emissions while allowing companies to buy and trade pollution permits. He said he would devote $150 billion of the revenue from the sale of those permits over 10 years to energy efficiency and alternative energy projects to wean the nation from fuels that are the main causes of the heating the atmosphere.

But the Obama adviser who discussed the green energy project said Mr. Obama would not await passage of a global warming bill before embarking on the new energy and infrastructure spending. House and Senate supporters of a climate bill said they would continue working on legislative language but did not expect quick action on a cap-and-trade law because of the economic emergency.

That means that the green-jobs program would not be financed with pollution credits bought by power generators and other carbon emitters, but instead would be added to the budget deficit.

Congressional officials working with the Obama administration said the stimulus program was also likely to involve tax breaks or direct government subsidies for a variety of clean energy projects, including solar arrays, wind farms, advanced biofuels and technology to capture carbon dioxide emissions from coal-burning power plants.

The programs will be a part of a larger economic stimulus package whose outlines are faint but which is expected to cost $400 billion to $500 billion. Mr. Obama has said that his goal is to create or save 2.5 million jobs in the next two years. He has assigned to his economic and environmental advisers the task of devising a proposal that is expected to combine a shot of new federal money into existing federal and state programs and the possible creation of agencies modeled on New Deal public works programs.

“We’ll put people back to work rebuilding our crumbling roads and bridges, modernizing schools that are failing our children, and building wind farms and solar panels, fuel-efficient cars and the alternative energy technologies that can free us from our dependence on foreign oil and keep our economy competitive in the years ahead,” Mr. Obama said in a radio address last month, echoing a campaign promise with a new sense of urgency.

The political climate seems favorable to an economic stimulus plan, but large sums of new money touch off lobbying frenzies and energy projects spur debate between conservationists and those who want to more fully exploit domestic sources of oil, natural gas and coal.

Some experts said the record of government’s intervention in energy markets and new technologies was not promising, citing as a spectacular example the Carter-era Synthetic Fuels Corporation, which spent more than $3 billion without producing any commercially usable amount of coal-based liquid fuel.

Ethanol and other non-oil-based fuels have also not proved their commercial value, in some cases yielding less energy than was needed to produce them, or, in ethanol’s case, diverting land to corn and driving up food prices.

The plan could also face resistance from fiscal hawks. In 2004, Senator John McCain, Republican of Arizona, almost single-handedly blocked a $100 billion energy package, saying the billions of dollars in subsidies for ethanol and other alternative fuels were little more than a special-interest boondoggle. The bill was revived a year later at half the cost, and much of the money in it has not been spent.

“Now they’re talking about some large amount of money — what, $100 billion? — and spending it on windmills, job training, whatever,” said David Kreutzer, who studies energy economics and climate change at the Heritage Foundation, a conservative research group. “But where do you get the $100 billion in the first place? Are you going to take $100 billion from some other part of the economy, are you going to tax some people to pay for it? Are you just going to print it or borrow it? The money has to come from somewhere.”

The Obama team and Congressional leaders say they want a plan ready shortly after Congress reconvenes in January.

By JOHN M. BRODER
Published: December 3, 2008

http://www.nytimes.com/2008/12/04





Selengkapnya....

Sabtu, November 01, 2008

SATU LUBANG BANYAK KEUNTUNGAN

Masyarakat yang tinggal di perkotaan -seperti Jakarta- tentu sudah mafhum, salah satu persoalan terbesar kehidupan mereka berhubungan dengan masalah air. Pada musim kemarau persediaan air tanah menipis, sulit mendapat air bersih. Namun di musim hujan, datang ancaman banjir. Serba salah.

Jika kita mau aktif menanggulangi masalah tersebut, mengapa tidak berpartisipasi dengan cara membuat lubang resapan biopori (LRB) di lingkungan tempat tinggal kita? Meski sederhana, lubang resapan air buatan sendiri ini memberi kontribusi yang tidak kecil bagi lingkungan.

Dulu, pembuatan sumur resapan di rumah kita banyak kendala teknis. Nah, LRB mengatasi hambatan itu karena dibuat tanpa menyita lahan, tapi kemampuan penyerapan airnya begitu besar. Pada ukuran ideal, yakni lubang berdiameter 10 cm berkedalaman 100 cm, kemampuan resapan maksimumnya bisa mencapai 25 l per m2.

Beberapa syarat dibutuhkan agar LRB efektif. Terutama soal penempatan lubang yang harus memperhitungkan daerah aliran air. Bisa di saluran pembuangan air, sekeliling batang pohon, perubahan kontur taman atau di batas-batas taman. Jarak penempatannya amat tergantung pada kondisi tanah dan intensitas hujan, tapi idealnya antar lubang berjarak 50-100 cm.

Lubang resapan dapat diisi sampah organik, baik sampah dapur atau kebun, yang akan menjadi pakan bagi organisme tanah seperti cacing tanah, rayap, semut, jamur maupun bakteri. Penguraian di dalam tanah ditandai dengan susutnya sampah. Pada saat itu terbentuklah lubang-lubang biopori, yakni lubang-lubang kecil yang menjadi pintu masuk resapan air ke badan tanah.

Lubang biopori akan menyerap air hujan, yang artinya akan mencegah banjir dan menambah cadangan air tanah. Organisme tanah juga akan memperbaiki ekosistem tanah sehingga tanaman di atasnya ikut diuntungkan. Sampah organik yang terurai juga dapat dipanen sebagai kompos dan bermanfaat bagi kebun di sekitarnya. Yuk kita coba!


Langkah-langkah pembuatan :

  • Rencanakan penempatan lubang di areal sekitar rumah. Lubang bisa ditempatkan pada jarak tertentu (50-100 cm) di areal pekarangan, di sekeliling batang pohon, daerah aliran air, atau di dasar saluran air.
  • Buat lubang di tanah berdiameter 10 cm, berkedalaman sekitar 1 m di atas permukaan air tanah. Agar memudahkan pembuatan lubang, sudah diciptakan bor khusus. Untuk memudahkan pengeboran, gemburkan tanah dengan air. Setiap kali mata bor penuh dengan tanah atau setiap kedalaman tanah 10 cm, tarik bor dan bersihkan.
  • Perkuat mulut lubang dengan penyemenan berukuran lebar 2-3 cm dan tebal 2 cm.
  • RB dapat diberi penutup berlubang jika dikhawatirkan dapat mencelakai orang atau hewan peliharaan.

SAMPAH DAN PUPUK
Masukkan sampah organik dari dapur atau daun dan ranting kering dari kebun. Padatkan selalu sampah menggunakan tongkat. Jika lubang telah penuh, pindahlah ke lubang berikutnya, terus secara berurutan.
Dalam beberapa minggu sampah akan menyusut. Saat itulah lubang biopori mulai terbentuk di dalam tanah dan memperbanyak penyerapan air. Hilangkan tanah yang mungkin menumpuk di atas tanah yang menghalangi jalan masuk air.
Sampah yang mengalami pelapukan akan menjadi pupuk berupa kompos. Cirinya sampah berubah menjadi coklat kehitaman, mudah hancur dan beraroma seperti tanah. Pemanenan bisa dilakukan dengan bor yang sama untuk membuat lubang.

Informasi Biopori :
Tim Biopori IPB
Wahyu Purwakusuma
Telp. 0817225172/08567124947

Selengkapnya....

RAME-RAME GO GREEN

Tak ada lingkungan yang lebih panas daripada isu pemanasan global. Koran, majalah, televisi, radio, Internet sekua mengajak kita untuk menghentikannya. Para ahli lingkungan sepakat, semua penduduk planet Bumi harus ikut ambil bagian dalam upaya ini tanpa kecuali. Nah, kita bisa ikut serta memulai dari hal-hal kecil, mulai dari diri sendiri, mulai sekarang!

Sudah kelewat sering kita mendengar ulasan tentang pemanasan global di media massa. Orang-orang kampung yang tak pernah membaca koran saja sekarang bisa bicara es yang meleleh di Kutub Utara. Wajar saja, isu ini memang masalah nyata yang dihadapi umat manusia sekarang dan di masa datang. Karena itu, hampir bisa dipastikan masalah ini akan terus menjadi topik bahasan di media massa. Harap maklum.

Sekadar mengulas kembali, biang keladi masalah pemanasan global adalah menumpuknya gas rumah kaca di atmosfer bumi. Ada beberapa macam gas rumah kaca antara lain carbóndioksida (CO2), metana (CH4), dinitro-oksida (N2O) dan sejenisnya. Dari beberapa jenis gas rumah kaca itu, yang paling besar pengaruhnya terhadap masalah pemanasan global saat ini adalah gas carbóndioksida.

Sebetulnya gas carbóndioksida adalah gas yang normal terdapat di alam dalam jumlah melimpah. Gas ini ada di dalam udara yang kita hirup setiap saat. Di atmosfer, carbóndioksida sangat diperlukan untuk menjaga agar bumi tetap hangat. Selain itu, gas yang dalam bahasa Indonesia disebut sebagai asam arang ini juga diperlukan oleh tumbuh-tumbuhan untuk proses fotosíntesis. Tapi jika jumlahnya di udara melebihi batas keseimbangan alam, gas ini bisa menimbulkan masalah.Di atmosfer bumi, molekul-molekul karbondioksida ini menahan panas dari radiasi matahari yang semestinya dipantulkan ke angkasa luar.

Inilah yang menyebabkan suhu permukaan bumi menjadi naik. Kenaikan suhu ini menyebabkan perubahan iklim serta timbulnya berbagai bencana alam yang terkait dengan iklim seperti angin topan, badai, kekeringan, gagal panen, banjir bandang dan sebagainya.

Menumpuknya gas carbóndioksida di alam disebabkan oleh dua hal utama. Pertama, karena semakin berkurangnya jumlah tumbuhan yang melakukan fotosíntesis (mengurai carbóndioksida menjadi oksigen). Pohon-pohon ditebang, hutan tropis semakin menipis. Kedua, karena produksi gas ini juga terus meningkat dari tahun ke tahun, terutama sejak Revolusi Industri di abad ke-18. Saat ini jumlah kendaraan bermotor semakin tak terbilang, pabrik-pabrik juga semakin banyak.

Produksi gas ini terutama berasal dari pemakaian bahan bakar hidrokarbon, dalam hal ini adalah bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara. Kita tahu, hampir semua orang saat ini sudah sepenuhnya tergantung dengan bahan bakar fosil. Nyaris semua aktivitas kita sehari-hari tidak bisa dipisahkan dari bahan bakar ini. Naik kendaraan butuh listrik yang dihasilkan dari pembangkit berbahan bakar batubara. Begitu seterusnya.


BERPIKIR GLOBAL
Jika kita tidak bisa melepaskan diri dari bahan bakar penghasil karbondioksida, apakah masih ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk mengurangi laju pemanasan global? Jelas masih ada. Bukan hanya ada tapi banyak. ”Kuncinya, kita harus menciptakan keseimbangan”, kata Nursiwan Taqim, asisten Deputi Urusan Edukasi dan Komuikasi Lingkungan Kementreian Negara Ligkungan Hidup. Keseimbangan itu bisa kita ciptakan dengan cara menambah jumlah tanaman yang melakukan fotosintesis serta mengurangi produksi gas karbondioksida.

Masalah pemanasan global adalah tanggung jawab semua penduduk bumi. Diantara usaha-usaha melawan masalah ini, ada yang menjadi tanggung jawab negara, juga yang merupakan tanggung jawab kita semua sebagai individu. Program penyelamatan bumi adalah kerja kolektif seluruh penduduk planet bumi yang berjumlah lebih dari enam miliar manusia. Upaya ini adalah kerja kolektif dari Patar Parlindungan Butarbutar di Medan, Ahmad Sudjarmaji di Sidoarjo, Ni Ketut Sukerti di Bali dan Richard Salampessy di Ambon. Untuk ikut serta dalam usaha ini, kita tak harus berpikir yang besar-besar. Cukup yang kecil-kecil saja.

Jika semua orang di seluruh globe (bola bumi) melakukannya secara besama-sama, maka upaya kolektif ini akan menghasilkan sebuah hasil kerja yang bersifat global. Dalam bahasa para penggiat cinta lingkungan, think globally, act locally. Mari berpikir global, bertindak lokal. Melakukan hal-hal yang kecil, untuk tujuan besar. Bertindak kecil bisa dilakukan di rumah, di jalan raya, di kantor, di pusat perbelanjaan, di tempat hiburan, dan di semua tempat lainnya.

Untuk tujuan ini, organisasi nirlaba di bidang lingkungan hidup World Fund for nature (WWF) Indonesia telah membuat selebaran yang berisi aneka petunjuk sederhana yang bisa kita lakukan dalam aktivitas sehari-hari.

HEMAT LISTRIK
Sekilas listrik mungkin tampak tidak berhubungan dengan urusan pemanasan global. Menurut perhitungan WWF, sekitar sepertiga gas rumah kaca berasal dari sektor energi ini. Di Indonesia, sebagian besar pembangkit listrik masih berbahan bakar fosil, terutama batubara. Pembangkit listrik ini melepaskan karbondioksida ke atmosfer secara kolosal sepanjang waktu tanpa henti karena memang kita terus menerus mengonsumsi listrik. Makin boros kita memakai listrik, artinya makin banyak gas rumah kaca yang kita hasilkan.

1.

Gunakan alat-alat elektronik seperlunya. Matikan alat-alat itu saat tidak digunakan. Dalam keadaan siaga (stand by) pun, alat-alat ini tetap mengonsumsi listrik meskipun jumlahnya kecil. Kita tidak harus mencabut stop kontak listrik tiap kali kita tinggalkan. Ini cara yang berbahaya. Untuk menyiasatinya, gunakan stop kontak yang memiliki tombol on/off. Dengan begitu kita tidak perlu mencabutnya saat meninggalkannya, tapi cukup dengan memencet tombol off.

2.

Gunakan alat elektronik yang hemat energi. Kini di pasaran banyak tersedia alat elektronik yang hemat listrik, mulai dari lampu, kulkas, setrika, televisi, komputer dan sebagainya. Lampu neon lebih irit listrik daripada lampu pijar. Setrika dengan pengatur panas otomatis lebih hemat daripada yang manual. Laptop lebih hemat listrik daripada personal computer. Monitor komputer tipe LCD lebih hemat listrik daripada tipe CRT. Begitu seterusnya.

3.

Saat membangun rumah, pilih rancangan hemat energi, misalnya dengna membuat langit-langit cukup tinggi, jendela cukup lebar, pengaturan ruangan yang mempermudah sirkulasi udara, cat tembok yang terang dan sebagainya. Desain ini memungkinkan kita mematikan lampu di siang hari dan menggunakan cahaya matahari untuk penerangan rumah. Rancangan hemat listrik juga membuat rumah tak memerlukan terlalu banyak lampu di malam hari. Rumah juga tetap terasa adem tanpa menggunakan kipas angin atau pendingin udara (AC). Solusi rumah hemat energi bisa dengan mudah kita temukan di buku-buku atau majalah arsitektur yang banyak tersedia di toko buku.

4.

Gunakan alat-alat elektronik secara optimal dengan listrik minimal.

a. Bersihkan saringan penghisap debu dan AC secara teratur. Saringan yang kotor menyebabkan motor bekerja lebih berat dan mengonsumsi listrik lebih banyak.

b. Atur suhu AC sesuai kebutuhan. Jangan diatur terlalu dingin sampai membuat harus memakai baju hangat. Semakin rendah suhunya, semakin tinggi konsumsi listrik.

c. Pastikan pintu lemari es cukup rapat. Isi secukupnya, jangan terlalu penuh. Jangan masukkan makanan atau minuman dalam keadaan panas-panas ke dalamnya. Pintu yang tidak tertutup rapat, isi yang telalu penuh dan panas akan menyebabkan konsumsi listrik lebih tinggi.

d. Gunakan mesin cuci jika jumlah cucian sudah sesuai kapasitasnya.

”Ini bukan perkara sanggup bayar atau tidak,” kata Verana Puspawardani, Climate & Energy Campaigner, WWR Indonesia. Menurut Verena, ini merupakan masalah klasik yang sering ditemui di kalangan ekonomi menengah ke atas. Masih banyak dari mereka yang berpikir, buat apa hemat listrik kalau masih mampu bayar.

HEMAT BBM
Menurut perhitungan WWF, sektor transportasi menyumbang sekitar seperempat dari total gas rumah kaca yang terakumulasi di atmosfer. Sektor ini menempati urutan kedua setelah pembangkit listrik. Semakin banyak kita manggunakan BBM, semakin besar pula sumbangan kita kepada pemanasan global.

a. Sebisa mungkin gunakan transportasi umum. Makin banyak pemakai kendaraan probadi di jalan raya, makin besar produksi karbondioksida.

b. Jika mungkin, bergabunglah dengan komunitas bike to work, bersepeda ke kantor.

c. Jika terpaksa menggunakan kendaraan pribadi, pilihlah kendaraan yang hemat bahan bakar. Jika bisa, ajak serta kawan-kawan satu jurusan untuk berangkat dan pulang kerja seperti yang dilakukan oleh komunitas Nebeng. Rawat mesin kendaraan secara teratur supaya mesin tetap hemat bahan bakar. Pastikan tekanan ban mobil tidak di bawah normal (karena tiap penurunan tekanan sebesar 0,5 bar di bawah normal akan meningkatkan konsumsi bahan bakar sebesar 5%). Keluarkan isi bagasi yang tidak perlu (karena tiap kenaikan 100 kg beban akan meningkatkan konsumsi bahan bakar sebesar 1 1/100 km).


HEMAT KERTAS
Kertas (termasuk tisu) merupakan barang konsumsi yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena bahan bakunya adalah serat pohon. Sedangkan pohon merupakan pengolah karbon dioksida menjadi oksigen. Jika kita berhemat kertas, berarti kita turut menjaga ”pabrik” pengurai gas rumah kaca. Supaya hemat, gunakan kertas untukmencetak bolak balik, hindari mencetak terlalu banyak dokumen yang bisa disimpan dengan soft copy, salurkan kertas bekas ke pemulung untuk didaur ulang.

KONSUMSI SEPERLUNYA
Prinsip konsumsi seperlunya ini boleh dikatakan sebagai intisari dari gaya hidup ramah lingkungan. Semakin banyak kita membeli, berarti semakin banyak kita menggunakan energi, makin besar pula emisi gas rumah kaca yang kita hasilkan.

Apapun jenis barang yang kita konsumsi, prinsip hemat harus diterapkan. Batasi penggunaan listrik, bawa kantong dari rumah saat berbelanja, salurkan sampah plastik yang bisa didaur ulang kepada pemulung. Biasakan membeli produk yang kemasannya punya label bisa didaur ulang. Sebisa mungkin kurangi penggunaan barang sekali pakai atau yang cepat menjadi smapah.

SATU POHON SATU ORANG
Selain dalam bentuk mengurangi emisi gas karbon dioksida, kita juga bisa turut serta manahan laju pemanasan global dengancara memperbanyak jumlah tumbuhan yang melakukan fotosintesis. Targetnya tak usah terlalu tinggi, satu orang satu pohon saja. Pohon bisa ditanam di tanah pekarangan, jika memang ada. Akan lebih baik lagi jika di lahan tersebut juga dibuat lubang biopori. Kalaupun rumah tidak punya sisa halaman, seperti di ermukiman yang padat, kita tetap bisa menanam pohon di dalam pot.

Jadi tak ada alasan keterbatasan lahan.

Saat ini kampanye ”satu orang atu pohon” juga sedang digalakkan di berbagai daerah dan institusi. Di beberapa daerah ada peraturan yang mewajibkan orang yang akan menikah atau mengurus akte kelahiran untuk menanam pohon. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) juga mencanangkan program satu guru satu pohon (Sagu Sapo).

Agar program tanam pohon ini tidka berhenti sebatas tindakan seremonial, Nursiwan menegaskan perluya masyarakat punya kesadaran untuk merawat pohohn yang sudah ditanam. Kalau Cuma ditanam tapi tidak dirawat, sama juga boong. ”Menanam itu gampang, memeliharanya yang susah,” katanya.

Satu hal yang perlu ditekankan, kita tidak akan rugi sedikitpun kalau menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Sebaliknya, kita malah akan untung, baik secara langsung maupun tidak. Sebagai contoh, kalau kita hemat listrik, manfaatnya akan langsung bisa dirasakan dari berkurangnya tagihan PLN. Kalalu kita menanam pohon di halaman rumah, kita sendirilah yang merasakan udara menjadi lebih adem, rumah juga jadi lebih indah. Kalau kita hemat kertas, anggaran belanja bisa dipangkas. Begiu seterusnya.

Gaya hidup ramah lingkungan adalah bentuk kesadaran masyarakat, bukan karena tekanan dari pemerintah atau lembaga. ”kalu kita bicara tentang masalah lingkungan, yang utama adalah kesadaran”, kata Nursiwan.

Tak perlu malu-malu atau takut dibilang sok jika ingin memulainya di kantor maupun di lingkungan tempat tinggal. Kita tidak sendirian. Gerakan gaya hidup ramah lingkungan kini sudah banyak diterapkan di sekolah, di rumah sakit, dan kantor-kantor. Kalau kita ketinggalan kereta, apa kata dunia? Jika bisa, bergabunglah dengan komunitas-komunitas sadar lingkungan seperti yang dibangun WWF Indonesia (www.supporterwwf.org).

Yang tak boleh dilupakan, sikap ramah lingkungan merupakan usaha merawat bumi jangka panjang. Kalau kita tidak memulainya sekarang, yang akan menanggung akibat buruknya adalah anak-anak kita yang saat ini masih bocah-bocah lucu. Jika mereka sudah bisa diberi pengertian, tanamkan sikap ini pada mereka sejak dini. Kita harus bersama-sama memulai usaha ini dari hal-hal kecil, dari diri sendiri, dari sekarang. Kalau boleh meniru slogan warga Betawi, “Bumi kite, kalau bukan kite nyang merawat, lalu siape lagi?”

By : M.Sholekhudin
Intisari, ed. September 2008

Selengkapnya....

UBAH PERILAKU DEMI LINGKUNGAN

Ada kecenderungan tingkat kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup (LH) tak sebanding dengan upaya perbaikan dan pemulihannya. Padahal, pembangunan terutama yang bertumpu pada pemanfaatan sumberdaya alam (SDA) mestinya tak boleh menghilangkan peluang generasi mendatang untuk menikmati berbagai manfaat kekayaan alam.

Pada dekade 1990-an, PBB membawa soal pembangunan yang mengarah pada kesejahteraan umat manusia ke dalam pembahasan dan kesepakatan antarnegara. Misalnya lewat KTT Bumi di Rio de Janeiro, 1992 dan Konferensi Kependudukan dan Pembangunan di Kairo, 1994. Puncaknya, lahirlah Deklarasi Milenium, kesepakatan 289 negara mengenai arah pembangunan dan sasaran yang perlu diwujudkan.

Terabaikannya pertimbangan pelestarian LH dalam pembangunan ekonomi sejak awal abad ke-20 memicu penurunan mutu LH di tingkat global, regional, dan nasional. LH yang paling terkait menyebabkan masalah LH tak dapat dipisah-pisah menurut batas Negara atau asministrasi suatu wilayah.

Masalah LH di Indonesia dipicu pemanfaatan SDA tanpa prinsip lestari. Misalnya, awal 2000 di Padang, Sumbar terjadi bencana terbesar sepanjang sejarah provinsi itu. Tanah longsor, banjir, dan air bah yang disebut galado menelan 111 korban jiwa dan kerugian ekonomi Rp 302 miliar. Pada Januari-pertengahan Desember 2003 terjadi tanah longsor di seluruh Indonesia, 70 diantaranya di Jawa Barat, memakan korban 176 jiwa, 1.563 rumah rusak dan 55 rumah hancur. Pengalihan lahan yang terus berlanjut memicu berkurangnya air tanah, erosi dan banjir. Areal air tawar dari 11,5 juta ha tinggal 5,1 juta ha. Danau berkurang sekitar 774.000 ha menjadi 308.000 ha.

Ini terkait pemanasan global dan perubahan iklim. Pemanasan global adalah meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi sedunia dari tahun ke tahun. Bumi memang perlu panas di tingkat tertentu. Jika tiada, seluruh permukaan bumi bisa jadi es. Panas itu salah satunya dihasilkan Efek Rumah Kaca (EFK) alami, yaitu terperangkapnya gas buang seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan dinitrooksida (N2O)di atmosfer. Namun bila berlebihan, es kutub pun mencair.

Menurut Intergovermentall Panel on Climate Change (IPCC), pemanasan global dapat memicu perubahan berarti dalam sistem fisik dan biologis berbagai ekosistem di daerah garis lintang tinggi (Artika dan Antartika) dan pantai. Seperti peningkatan intensitas badai tropis, perubahan pola hujan dan angin, kadar garam air laut, masa perkembangbiakan hewan dan tanaman, penyebaran spesies dan ukuran populasi, frekuensi serangan hama dan wabah penyakit.

Jadi upaya sistematis untuk memperlambat laju pamanasan global dan meingkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim dalam sistem perencanaan pembangunan, disertai perubahan perilaku masyarakat dunia yang lebih ramah lingkungan, sudah menjadi keharusan.

Indonesia berperan aktif dalam tiap kesepakatan internasional LH. Salah satu yang sangat penting adalah dalam Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim yang berlangsung di Bali, 3-15 Desember 2007. Tercapainya kesepakatan Bali Roadmap memberikan bobot tanggung jawab penuh Indonesia menuju kesepakatan baru menuju Kyoto Protocol pada 2009 di Kopenhagen, Denmark.

Hal terpenting dari pertemuan dunis di Bali itu adalah bangkitnya kesadaran seluruh warga bumi terhadap ancaman perubahan iklim. Perubahan iklim sudah nyata dan harus ditangani. Sesuai tema Hari Lingkungan Hidup 2008 oleh Badan Lingkungan Hidup Dunis, UNEP yaitu “Kick the habit! Towards a low carbon economy” yang di Indonesia menjadi “Ubah perilaku dan cegah pencemaran lingkungan”

By : Prof. (Hon) Ir. Rachmat Witoelar
Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim

Selengkapnya....